Tuesday, June 16, 2009

Perang Salib & Kebangkitan Kembali Ekonomi Eropa


Judul Buku : Perang Salib & Kebangkitan Kembali Ekonomi Eropa
Penulis : Dr. Ajat Sudrajat
ISBN : 979-19799-3-6
Tebal : 234 hal + iv
Ukuran : 20,5 x 14,5 cm
Kategori : Sejarah
Harga : 45.000,-
Penerbit : Leutika Yogyakarta -0274-880387
Distributor : CV. DIANDRA PRIMAMITRA MEDIA
0274-871159, 081578784085, diandramitra@gmail.com


PENGANTAR
Dunia Islam dan Barat merupakan dua di antara peradaban dunia yang senantiasa menarik untuk diperhatikan. lnteraksi yang melibatkan kedua peradaban ml tidak habis-abisnya mengundang diskusi, sehingga minat untuk mengkajinya pun tidak pernah surut an berhenti. Salah satu di antara daya tarik mengapa kajian itu terus berlangsung adalah danya konflik yang seringkali mengiringi interaksi keduanya.

Secara garis besar, buku ini akan melihat kembali interaksi yang terjadi antara dunia Islam dengan Eropa Kristen, selama kurun waktu berlangsungnya Perang Salib dan implikasinya terhadap perkembangan ekonomi Eropa Kristen. Ketika Perang Salib sedang berlangsung, hubungan perdagangan yang terjadi antara dunia Islam dan Eropa Kristen ternyata tidak pernah berhenti. Hubungan perdagangan ini bahkan telah mengantarkan Eropa Kristen menuju kebangkitan kembali ekonominya.

Berdasarkan dua kenyataan yang kontras mi, yaitu konflik di satu pihak, dan kerjasama di pihak lain, maka kehadiran buku ini bertujuan untuk merekonstruksi interaksi dunia Islam dan Eropa. Melalui rekonstruksi ini, diharapkan akan lahir suatu horizon baru mengenai interaksi antara dunia Islam dan Barat, Yaitu suatu interaksi dalam pengertian yang lebih bersahabat.
Penafsiran kembali mengenal interaksi dunia Islam dan Barat ini diharapkan dapat membantu mengurangi atau jika mungkin menghilangkan rasangka dan kedua belah pihak meskipun untuk yang disebut terakhir sangat sulit terwujud. Penafsiran kembali ini diharapkan dapat menggantikan citra-citra yang dibangun secara timbal balik selama ini. Pendeknya, penafsiran kembali ini dapat menjadikan kedua belah pihak saling bersahabat dan peduli.

Untuk itu penafsiran terhadap interaksi dunia Islam dan Barat harus menghindari teori benturan peradaban seperti yang banyak dilakukan selama ini. Kekaisaran Bizantium dilawan oleh Khilafah Islamiyah, pemerintahan Islam di Spanyol dilawan oleh Kerajaan Kristen, dan Turki Usmani dilawan oleh Eropa. Dalam pengertian yang lebih umum, interaksi sosial, ekonomi, dan politik dunia Kristen Abad Pertengahan dihadapkan dengan dunia Islam. Padahal, demikian menurut Syafi’i Ma’arif, di sela-sela hubungan yang kontras antara dunia Islam dan Barat, tidak jarang kedua belah pihak telah menunjukkan sikap saling mengenal, saling belajar, dan saling memberi dan menerima.

DAPATKAN BUKU INI DI:

1. Toko Buku Gramedia
2. Toko Buku Gunung Agung
3. Toko Buku Utama
4. Toko Buku Karisma
5. Toko Buku Togas Mas
6. Toko Buku Social Agency
7. Toko Buku Uranus
8. dan Toko Buku Terdekat Anda.

Akuntansi Itu Ternyata Logis dan Mudah


Judul Buku: Akuntansi Itu Ternyata Logis dan Mudah

Penulis: Dr. Sony Warsono, MAFIS, Akuntan, Arif Darmawan, SE, M. Arsyadi Ridha, SE

ISBN: 978-979-17912-2-9

Tebal: 163 hal + ix

Ukuran: 13 x 18 cm

Harga: 25.000,-

Penerbit: ASGARD CHAPTER

DISTRIBUTOR TUNGGAL:

CV. DIANDRA PRIMAMITRA MEDIA

0274-871159, 081578784085, 088802744623

Email: diandramitra@gmail.com


Kata Pengantar:

Syukur AlhamduIillah kami diberi kekuatan hingga akhirnya mendapatkan pencerahan dalam pemahaman akuntansi, dapat menyelesaikan penulisan buku kecil ini dengan sebaik-baiknya.

Mengerjakan sesuatu dengan cara yang sama tentu akan memperoleh hasil yang sama seperti yang sebelumnya. Untuk itulah maka kami membahas akuntansi dengan cara yang berbeda sehingga dapat mengurai benang kusut pembelajaran akuntansi yang selama ini selalu dihadapi oleh entrepreneurs dan pelajar/mahasiswa.

Berbeda dan buku-buku akuntansi yang sudah ada, buku ini menyodorkan logika akuntansi berdasar logika yang sudah diyakini kebenarannya oleh masyarakat umum. Dengan demikian maka pemahaman akuntansi menjadi sangat mudah karena memang logika tersebut adalah justru logika yang benar dan dapat menjawab banyak topik akuntansi yang selama ini secara sengaja tidak dijawab secara tuntas.

Bagi para pembaca yang menginginkan untuk mempelajari akuntansi secara akademis, buku-buku akuntansi yang telah kami terbitkan merupakan referensi utama untuk Iebih mengenal akuntansi. Atau, pembaca dapat langsung mendiskusikan permasalahan akuntansi yang Anda hadapi dengan kami baik secara temu-muka maupun pemanfaatan teknologi informasi.

Dengan segala keterbatasan kami yang tertuang di buku mi, semoga buku mi bermanfaat bagi para pembaca.
DAFTAR ISI

BAB I:

BENARKAH KITA MEMBUTUHKAN AKUNTANSI?

1. Arti Penting Akuntansi, 2
2. Definisi Akuntansi, 3
3. Tiga Pilar Akuntansi, 4
4. Pilar Pertama: Matematika, 5
5. Pilar Kedua: Prinsip-Prinsip, 6
6. Pilar Ketiga: Rancang-Bangun, 7
7. Perusahaan Sebagi Entitas Bisnis, 8
8. Profesi di Bidang Akuntansi, 9

BAB 2:

RAGAIMANAKAH LOGIKA PERSAMAAN AKUNTANSI?

1. PABU: Kesatuan Usaha, 12
2. Jenis-Jenis Transaksi, 13
3. Rasionalitas PDA, 14
4. Definisi Ekuitas, 14
5. Biaya, Pendapatan, dan Laba 16
6. Pengembalian Ekuitas, 17
7. Persamaan Ekstensi Akuntansi (PEA), 17
8. Aplikasi Persamaan Akuntansi, 18

BAB 3:
MENGAPA PENCATATAN
AKUNTANSI BERBASIS AKUN?

1. Hubungan Elemen dan Akun, 26
2. Arti Pentmg & Fungsi Akun, 27
3. Rancang-Bangun Format Akun, 28
4. Nama-Nama Akun, 29
5. Pengklasifikasian Akun, 35
6. Definisi Akun Kontra, 36
7. Aplikasi Pencatatan Berbasis Akun, 37

BAB 4:
BENARKAII TERDAPAT MATEMATIKA
DEBET DAN KREDIT?

1. Apa Itu Sistem Pencatatan Berpasangan?, 44
2. Hubungan Antar Akun, 45
3. Apa Itu Debet Dan Kredit?, 47
4. Matematika Debet dan Kredit, 48
5. Pentingkah Ketentuan Debet Dan Kredit?, 50
6. Aplikasi Ketentuan Debet Dan Kredit, 50

BAB 5:
BAGAIMANA SIKLUS AKUNTANSI? &
APA OUTPUT AKUNTANSI?

1. PABU: Periodisasi, 58
2. Siklus Akuntansi (Gambaran Umum), 59
3. Siklus Akuntansi Perioda Berjalan, 60
4. Siklus Akuntansi Akhir Perioda, 61
5. Laporan Keuangan, 62
6. Laporan Laba/Rugi, 63
7. Laporan Perubahan Ekuitas, 65
8. Neraca (Laporan Posisi Keuangan), 65
9. Laporan Arus Kas 66
10. Hubungan Antar Jenis Laporan Keuangan, 67
11. Hubungan Akun dan Laporan Keuangan, 68

BAB 6:

SIKLUS PERIODA BERJALAN:

PENYIAPAN TRANSAKSI

1. PABU: Unit Moneter, 72
2. Sikius Akuntansi Penoda Berjalan, 72
3. Penyiapan Transaksi: Pengidentifikasian, 73
4. Penyiapan Transaksi:. Pengukuran, 75
5. Dua Jenis Pengukuran, 76

BAB 7:

SIKLUS PERIODA BERJALAN:

PENCATATAN TRANSAKSI

1. Penjurnalan Berbasis Sistem Pencatatan Berpasangan, 84
2. Fungsi Penjurnalan, 84
3. Informasi Pokok Di Penjurnalan, 85
4. Buku Jurnal, 86
5. Hubungan Penjurnalan Dan Bukti Transaksi, 87
6. Langkah-Langkah Penjurnalan, 88
7. Fungsi Pemindah-Bukuan, 89
8. Apa Itu Buku Besar?, 89
9. Jenis-Jenis Buku Besar, 90
10. Hubungan Buku Besar Dan Akun, 91
11. Akun Format T (T-Account), 91
12. Pencatatan Di Buku Besar Pembantu, 92
13. Langkah-Langkah Pemindah-Bukuan, 93
14. Aplikasi Penjurnalan Dan Pemindah-Bukuan, 94

BAB 8:

SIKLUS AKHIR PERIODA

1. Sikius Akuntansi Akhir Perioda, 102
2. Penghitungan Saldo Akun, 103
3. Daftar Saldo Sebelum Penyesuaian, 104
4. Pencatatan Penyesuai, 106
5. Daftar Saldo Setelah Penyesuaian, 116
6. Penyusunan Laporan Laba/Rugi, 118
7. Pencatatan Penutup, 119
8. Penyusunan Neraca, Laporan Perubahan Ekuitas, Dan Laporan Arus Kas, 124
9. Pencatatan Pembalik, 129
10. Kesimpulan, 133

BAB 9:

PERLUKAH NERACA LAJUR?

1. Apa Itu Neraca lajur?, 136
2. Haruskah Neraca Lajur Digunakan?,
3. Penyiapan Neraca Lajur, 137
4. Penggunaan Neraca Lajur, 137
5. Kerentanan Neraca Lajur 10 Kolom,

BAB 10:

BAGAIMANAKAH AKUNTANSI DI PERUSAHAAN

DAGANG & PERUSAHAAN MANUFAKTUR?

1. Jenis-Jenis Perusahaan, 146
2. Ketentuan-Ketentuan Bisnis Yang Berlaku, 147
3. Akuntansi Di Perusahaan Dagang 150
4. Akuntansi Di Perusahaan Manufaktur, 154
5. Penyusunan Laporan Keuangan, 159

DAFTAR PUSTAKA KATALOG BUKU

DAPATKAN BUKU INI DI:


1. Toko Buku Gramedia
2. Toko Buku Gunung Agung
3. Toko Buku Utama
4. Toko Buku Karisma
5. Toko Buku Togas Mas
6. Toko Buku Social Agency
7. Toko Buku Uranus
8. dan Toko Buku Terdekat Anda.

Berhala Itu Bernama Budaya Pop


Judul Buku: Berhala Itu Bernama Budaya Pop
Penulis: Ridho “Bukan” Rhoma
ISBN: 978-979-19799-2-4
Tebal: 92 hal + x
Ukuran: 21 x 14,5 cm
Harga: 27.500,-
Penerbit: Leutika Yogyakarta
Distributor Tunggal:
CV. DIANDRA PRIMAMITRA MEDIA
0274-871159, 081578784085, diandramedia@gmail.com


CUAP-CUAP PENULIS:
Pertama-tama dan yang paling utama serta tidak akan lama-lama. Para hadirin dan hadirat. Pak Amin dan Pak Amat. Baik yang sudah kawin maupun yang belom sunat. Juga para pembaca yang sukanya mangap (huwaaaa). Saya ingin mengucapkan sepatah, dua patah, hingga kata-kata saya bisa membuat goyang patah-patah. Annisa Bahar pun kalah, apalagi Inul dan yang sealiran darah, dalam sambutan ini. Kita dilarang begadang, begadang sih boleh saja, asal ada manfaatnya. Demikian kata ayah saya, Pak Haji “Bukan” Rhoma.

Gak berpanjang lebar. Karena kalau panjang-panjang kasian para ibu dan kalau lebar-lebar kasian para bapak. Halah, ngomong opo iki. Yups, singkat aja. Berbicara tentang budaya pop, maka tak lain kita sedang membicarakan tentang budaya yang sedang ngepop alias sedang in di sekitar kita. So, jelas banyak dong. Di tengah arus yang serba ngepop ini, tentu kita sadar bahwa kita telah dihipnotis oleh berbagai rayuan sehingga menghilangkan kesadaran kita sebagai manusia.

Kita jangan mau dikendalikan oleh budaya yang sebenarnya buatan manusia sendiri, sehingga terkadang kita menjadikannya sebagai berhala baru yang disembah-sembah. Kita harus bangun dan dunia yang meninabobokan kita, dunia khayal yang memberikan mimpi-mimpi mbelgedes. Apa itu mimpi-mimpi mbelgedes? Semuanya ada di buku ini.

Karya ini dipersembahkan buat mereka yang suka memlototi tivi tanpa henti. Buat mereka yang suka maenan HP (dengan segala merknya). Buat mereka yang gandrung ngegame. Buat mereka yang suka nongkrong di mall and cafe (asal nggak di WC aja. Bau cing). Buat para cewek (khususnya) yang suka banget ama fesyen. Buat gadis-gadis yang suka bersolek dan berdandan abis akibat korban produk-produk kosmetik. Buat para user atau netters. Serta buat mereka yang doyan googling dan yang kecanduan ma facebook. Selamat berteman dengan berhala baru itu yaw...

Buku ini gado-gado. Ada kacang, tahu, wortel, tempe, dan telur. Satu porsi lima rebu, pesen gak? (hus, ngawur). Maksudnya, kadang lucu, wagu, ato serius buanget (tapi banyak seriusnya ding). So, buku mi terbuka untuk diapakan saja, asal jangan dibuang (kasian yang nulis, hi, hi, hi...). Dibaca keseluruhan (excelent). Dibaca beberapa bab saja (guuuuud). Hanya membaca daftar isi atau pengantarnya (sip wae lah, no comment). Atau sekedar membaca judul buku di sampulnya (monggo wes). Nggak ada yang melarang. Oh ya, thanks a lot buat Mas Eko Prasetyo yang udah kasih kata pengantar.

Ridho”Bukan” Rhoma
Wirobrajan, akhir April 2009



Kata Pengantar:
Eko Prasetyo *)

Penyesalan untuk hal -hal yang kita lakukan bisa semakin berkurang dengan
berlalunya waktu;penyesalan untuk hal-hal yang tidakkita lakukan itulah yang
tidak bisa dihibur (Sdneyi Hans).

Dua gadis remaja menjemput saya. Dengan kendaraan Nissan Terrano mereka membawa saya ke sebuah panggung. Letaknya di muka halaman sekolah. Pagi itu mereka meminta saya untuk berbicara soal kuliah. Ini anak-anak yang sebentar lagi lulus. Semua anak kelas 3 SMU. Kaya, pintar, dan bersinar. Mereka memiliki segalanya. Sekolah yang komplit fasilitas. Orang tua yang tidak enggan mengeluarkan ongkos berapapun. Hari depan seakan mereka genggam erat. Mereka tahu tak ada yang bisa mengenyahkan mimpi yang sudah terajut rapi itu. Di muka panggung saya menyaksikan kampus-kampus yang mengiklankan diri. Kampus itu menjajakan diri untuk ditawar. Anak-anak manja, manis, dan segar itu saya lihat hanya mengintip sekadarnya. Stand kampus itu diisi dengan sebuah meja, penjaga, dan pajangan foto. Beberapa membawa majalah yang bersemangatkan pencarian siswa. Janggal, tak menarik dan mungkin juga tidak memikat. Kampus ini tak tahu kalau mereka kini berhadapan dengan generasi yang tak butuh janji. Anak-anak muda yang dipintarkan oleh google, dihibur dengan sajian film Twilght, dan dimanjakan oleh Mall. Sekolah, kampus, dan tempat ibadah seperti museum yang sesekali saja mereka kunjungi.

Sekolah seperti rumah yang mengekalkan kebiasaan. Tempat ibadah menjadi pelarian paling menyenangkan. Dan kampus hanya lahan untuk mematut diri. Ketiganya itu kini dengan mudah beradaptasi dengan tuntutan yang serba cepat, praktis, dan menyenangkan. Andai kita saksikan sekolah tampak kalau mereka begitu menjaga kenyamanan siswa. Beberapa sekolah menyediakan fasilitas dan kegiatan yang berlebihan. Pacuan kuda, konser musik, atau wisata ke luar negeri. Malahan ada kampus yang mendirikan restoran yang memuat semua masakan dunia. Begitu pula dengan tempat ibadah: pelatihan baca Qur’an singkat atau training sholat khusyu’ hingga menikah usia di. Kecepatan, kepraktisan, dan efisiensi adalah roh budaya pop. Budaya yang muncul dan rahim ekonomi neoliberalisme. Sebuah sistem yang amat memuja kemudaan, temuan baru dengan semangat siap pakai. Disana berlaku hukum: Apa yang kamu pakai akan menunjukkan dimana posisi kelasmu. Sama halnya dengan kredo yang bunyinya nyiyir: dimana kamu sekolah disanalah masa depanmu ditentukan.

Agaknya Ridho berada dalam pinggiran budaya in Sekolahnya saja di lAIN. Kampus yang kita tahu paras dan penampilan mahasiswanya. Merubah diri dengan nama UIN tak membuat kampus ini jadi magnet kaum muda borjuis, liberal, dan mapan. Pilihan mereka masih seputar: UI, ITB, UGM. Kemudian ia aktif di Ikatan Remaja Muhammadiyah yang kini berubah jadi 1PM. Sarang gerakan yang memang jauh lebih progresif, militan, dan mendobrak ketimbang organisasi sejenisnya, seperti: pramuka. Dan Ia bertempat tinggal di Yogyakarta. Kota yang dibanjiri oleh pelajar dan aktivitas modal. Di dekat kampus UIN bertengger mall-mall yang berlomba discount harga. Dikelilingi situasi itulah pembentukan identitas sosial begitu rentan. Kepemilikan memang jadi dasar identitas, di samping kemampuan bahasa dan kepemilikan simbol-simbol kultural. Ridho seperti anak muda Iainya, berusaha untuk menegaskan identitas sembari menggapai serta menegaskan posisi. Baik sebagai seorang sarjana, aktivis, maupun seorang pria. Buku ini salah satu cara dirinya menyatakan din.

Ditulis dengan bahasa renyah, segar, dan sederhana buku mi mengutarakan kegelisahan. Perjumpaannya dengan Handphone, Tivi, Game, Google, Cafe, Facebook, atau Chatting melalui internet adalah luapan pengalaman yang dimaknai dan ditafsirkan dalam benak posisi serta kepentingannya. Benaknya memendam rasa yang bercampur-campur: senang, kesal sekaligus mengejutkan. Ridho mungkin tak terlampau geram tapi menikmati sekaligus sedikit gelisah. Geliat itu yang beredar melalui tulisan-tulisannya. Ia membungkus semua yang dilihat dengan bahasa kesangsian yang polos, lugu, dan bersemangat bertanya. Ridho memang tak mengusut dan mana datangnya budaya pop, akarnya dan siapa, dan bekerja mengikuti logika macam apa. Yang dibayangkannya tetap sebuah gairah sekaligus gelisah. Kumandangnya dalam tiaptulisan hanya isyarat ringan dan tidak pedih. Ridho tak menemukan korban dan tertumbuk pada aparatus budaya pop. Ia hanya ingin mencoba kembali, memberi peningatan akan kekuatan sugestif budaya mi.

Agnesivitas budaya pop mi dilambangkan dengan energik oleh media. Kuasa media yang dengan mahir menciptakan kisah, tokoh sekaligus monumen tentang apa yang sudah mereka kerjakan. Landasan untuk berkuasanya budaya pop yang memang selalu berpatokan: cepat, dangkal, dan massal. Lihatlah film-film honor Indonesia yang tidak menakutkan tapi menguatirkan akal sehat. Sama halnya dengan semangat patriarki yang melandasi semua adegan sinetron. Seperti sebuah kota mati maka budaya pop menangguk massa potensial. Mereka pasrah, ikut, dan terendam di dalamnya. Mereka mempunyai umat yang muda, agresif, dan bergaya kota. Saksikan saja bagaimana potongan baju modis yang kini dikenakan oleh anak kota hingga pedusunan. Juga Indomaret dan Alfamart yang mengisi samping dan depan sawah. Atau pertumbuhan salon kecantikan yang memberi menu SPA hingga kiat membersihkan jerawat. Ringkasnya desa dan kota tak lagi dibedakan oleh tata rias tapi ‘derajat dan kedalaman’ eksploitasi kapital. Sebuah eksploitasi yang menggairahkan karena semua orang merasa dilibatkan dan ikut serta dalam pekan raya budaya pop ini.

Jika begitu maka tulisan ini jangan dihakimi sebaga ilmiah, feature, atau essai.Tulisan ini adalah bentuk perayaan itu sendiri. Ridho meski agak geram tapi juga begitu menikmati. Saksikan tulisannya tentang facebook. Jaring pertemanan yang sejarahnya begitu dikuasai melebihi. pengetahuannya tentang hari lahir RA Kartini. Begitu pula mengenai televisi. Budaya tonton yang sekarang ml hendak dimatikan. Semangat menarik karena IPM (Ikatan Pelajar Muhammadiyah) punya kampanye mengenai matikan TV. Karenanya tulisan mi adalah keterlibatani yang intens budaya pop. Diam-diam kita merayakan, mengamini, dan mencangkokkan diri kesana. Bukan sebuah kekeliruan.Tidak sesuatu yang sesat. Hanya itu salah satu kecanggihan budaya pop menusuk kita semua. Dan tampaknya kita selalu punya kesernpatan untuk mensiasati. Kita punya banyak ruang untuk menegoisasi. Ridho dalam tulisannya itu berusaha untuk mentoleransi sekaligus berusaha untuk melawan, mencari ruang, dan menggariskan peran yang bisa dilakukan.

Sebagal penutup, buku ini memang sangat unik dan menarik. Ridho seperti biasanya memprovokasi kita untuk percaya jika budaya pop bukan sesuatu yang ‘tamat’ begitu saja. Ada pergolakan, tankmenarik, dan semangat untuk tidak mau takiuk. Tulisan ini kemudian seperti sebuah perayaan kembati. Disegarkan ingatan kita atas lubang-lubang kepercayaan atas budaya pop. Kita tak bisa menghindar, tak mampu bersembunyi tapi bisa bersiasat. Karenanya tulisannya begitu mendidih. Walau agak ringan, lompatannya untuk menelaah benih-benih budaya pop telah menyadarkan kita akan ancamannya

Jadi, buku ini memang menarik untuk tidak sekadar dibaca, tapi menjadi renungan. Sebuah renungan yang akan membangunkan kita bahwa ‘nalar dan kesadaran’ kritis memang tak mudah ditidurkan begitu saja. Ridho memancing kita untuk mengusut keyakinan kita. Nyatanya hidup dalam budaya pop tak sekadar disiasati tapi juga butuh perlawanan tangguh. Ridho membeni bukti bagaimana budaya pop itu dihidupkan, dikhianatj, dan diterjang. Ia menjadi salah satu sosok muda yang berusaha untuk membaca dengan ‘tafsir baru’atas budaya pop. Selamat membaca.

Yogyakarta, 10 Mei 2009

Dapatkan Buku Ini di:

1. Toko Buku Gramedia
2. Toko Buku Gunung Agung
3. Toko Buku Utama
4. Toko Buku Karisma
5. Toko Buku Togas Mas
6. Toko Buku Social Agency
7. Toko Buku Uranus
8. dan Toko Buku Terdekat Anda.