Monday, April 13, 2009

101 Jejak Tokoh Islam Indonesia

Penerbit : E-Nusantara
Judul Buku : 101 Jejak Tokoh Islam Indonesia
Penulis : Badaitul Razikin
Badaitul Muchlisin Asti
Juanidi Abdul Munif
ISBN : 978-979-15836-11-9
Cetak : 2009
Hal : 155 x 240 mm, xvi + 369
Herger : 40.000,-
Distributor : CV. Diandra Primamitra Media – 0274-871159 / 021-85908215 / 031-5928869


Sejarah adalah cermin. Dengan membaca sejarah di masa lampau, ada hikmah yang dapat dijadikan pegangan. Pegangan dalam menata diri sebagai pribadi, masyarakat, dan bangsa dalam menghadapai realitas sosial yang kian kompleks dan rumit.
Indonesia adalah negara dengan penduduk mayoritas muslim. Realitas ini terjadi tidak dalam waktu seketika dan penyeberangannya pun tidak dalam jangk waktu yang pendek. Ada rentetan waktu, melampui generasi ke generasi untuk terus berjuang. Walaupun harus memeras pikiran, menguras peluh, bahkan dengan retesan darah. Demi mengibarkan satu tonggak, yakni Islam.
Rentangan waktu tersebut melahirkan tonggak-tonggak penggerak siar Islam. Dan tiap daerah pun memunculkan tokoh-tokoh utama yang terus berjuang, bahkan mendedikasikan segenap hidupnya demi kebangkitan Islam dengan hati yang tulus tanpa pamrih. Meskipun harus menerima tantangan yang tidak ringan. Bahkan bisa jadi nyawa menjadi taruhannya.
Islam yang mereka siarkan bukanlah Islam yang seragam. Hampir setiap daerah memiliki corak dan warna tersendiri. Ada ramuan-ramuan yang menonjolkan satu sisi tertentu daripada yang lainnya.
Nyaris setiap tokoh besar dengan latar belakang yang berbeda memunculkan pemikiran kesilaman yang berbeda pula. Hal semacam ini menjadi sebuah kewajaran yang tak perlu di peruncing, apalagi dijadikan bahan memicu rusaknya persatuan umat Islam.
Tak sia dipungkiri, kultur dimana sang tokoh dilahirkan dan dibesarkan, pendidika yang telah diserap. Lingkungan yang teal mempengaruhi dan mematangkan pemikirannya, serta perkembangan mental sang tokoh akan sangat terpengaruh pada pola pikir dan corka gerakan dalam memperjuangkan kebenaran yang diyakini. Perlu dipahami, bahwa setiap tokoh bersikukuh memperjuangkan kebenaran yang diyakini, akan tetapi sejarah mencatat, bahwa kebenaran yang telah diyakini dan sebuah gerakan yang dilakukan seorang tokoh ternyata memunculkan gesekan dari kebenaran dan gerakan dari tokoh yang lain, meski mereka sama-sama berlandaskan Al-Qur’an dan Hasit. Interpretasi yang berbeda terhadap Al-Qur’an dan Hadist, kerangka berfikir yang sulit dipertemukan dalam memahami ajaran Islam dan bahkan seringkali kepentingan pribadi atau golongan yang akan diatas namakan berjuang untuk agama adalah termasuk beberapa faktor pemicu perpecahan ukhuwah Islamiyah.
Semestinya, kita sebagai umat Islam selayaknya menyaring dan lebih bijak dalam mencermati perbedaan. Sebab, Islam adalah agama penyebar rahmat bagi seluruh alam semesta. Alangkah baiknya, jika perbedaab tersebut dijadikan hasanah atas melimpahnya pemikiran-pemikiran dan paham-paham yang menjadikan Islam semakin semarak dan bisa menjawab tantangan zaman dakan berbagai bidang.
Meskipun begitu, sejarah juga memperlihatkan kedamaian, keselarasan, keharmonisan yang dapat diciptakan di atas perbedaan. Pendapat boleh berbeda, tapi persaudaraan tetap berjalan.
Hal ini menjadi penting,melihat perkembangan kehidupan keberagaman deawsa ini, pergulatan, perdebatan, dan perbedaan yang secara tergesa-gesa mengklaim bahwa hanya pihaknya yang benar dan pihak yang lain adalah salah bahkan dianggap sesat hanya melahirkan fitnah bukan rahmat. Garis-garis perbedaan hanya makin meminggirkan umat, membuat mereka makin terbelenggu dengan pandangan mereka sendiri.
Dan masih sampai sekarang, ternyata penghakiman tanpa jalur hukum pada sebuah golongan atau paham tertentu di berbgai daerah, dimana kekersan masih menjadi priorotas dalam penyelesaian perbedaan. Dengan atas nama Tuhan, pejarahan, penghancuran , penaklukan, dianggap enjadi sesuatu yang mulia, Jihad.
Alangkah indahnya jika sebuah perbedaan dijadikan bahan diskusi untuk pencerdasan umat, apalagi dizaman modern seperti ini; teknologi semakin canggih, berbagai media siap menjadi perantara atas pemaparan berbagai pemikiran orang-orang yang berkompeten dalam berbagai bidang kelimuan dan forum. Sehingga tidak menjadi suatu yang mustahil, bila berbagai perangkat tersebut semaksimal mungkin dijadikan sarana untuk pencerdasan umta Islam; menata pemikiran pemahaman terhadap nilai-nilai keislaman dan penggerak ukhuwah Ilewat Islamiyah
Lewat buku ini, kami mencoba “merawat cermin”. Merekam tokoh-tokoh penyiar Islam yang bertebaran di Nusantara. Mencatat perjalanan hidup keseluruhan gerak, dan strategi dakwah mereka. Tokoh-tokoh yang akan dimungculkan sebagai berikut:
1. Abdullah Ahmad
2. KH. Abdullah Gymastiar
3. Abdullah Said
4. KH. Abdul Karim
5. Abdul Karim Amrullah
6. Prof. Dr. H. Abdullah Mukti Ali
7. KH. Abdul Wahab Hasbullah
8. KH. Abdul Wahid Hasyim
9. KH. Abdurahman Wahid
10. Abu Bakar Atjeh
11. Abu Bakr Ba’ayir
12. KH. Achmad Sidiq
13. Syekh Achmad Soorrkatty
14. Adiwarman A. Karim
15. KH. Agus Maksum Jauhari
16. H. Agus Salim
17. KH. Ahmad Azhar Basyir
18. Prof. Ahmad Baiquni
19. KH. Ahmad Dahlan
20. Ahmad Hasan
21. KH. A. Mustafa Bisri
22. Ahmad Khatib Al-Minangkabawi
23. KH. Ahmad Syaikhu
24. Prof. Ahmad Syafi’i Maarif
25. H. Ahmad Tohari
26. Ali Akbar
27. Prof. Dr. Ali Hasjmi
28. KH. Ali Maksum
29. Prof. KH Alie Yafie
30. Ary Ginanjar Agustian
31. KH. As’ad Syamsul Arifin
32. KH. Bahauddin Mudhary
33. KH. Bisri Musthafa
34. Craig Abdurrahim Owensby
35. Deddy Mizwar
36. KH. Didin Hafiuddin
37. Emha Ainun Najib (Cak Nun)
38. Kh, Endang Abdurrahman
39. KH. Engkin Zaenal Muttaqien
40. Habbib Rizieq Shihab
41. Harun Nasution
42. KH. Hasan Basri
43. H. Hasan Mustafa
44. KH. Idham Chalid
45. KH. Imam Zarkasyi
46. Jefri Al-Buchori
47. Kasman Singodimedjo
48. KH. Khamim Djazuli (Gus Miek)
49. Ki Bagus Hadikusomo
50. Prof. Dr. Kuntowijoyo
51. Habbib Idrus Bin Salim Al-Djuffri
52. Haddad Alwi
53. Prof.Dr. Hamka
54. Helvi Tiana Rosa
55. Hidayat Nur Wahid
56. Ja’far Umar Thalib
57. Soetomo
58. Syeikh Ibarahim Musa Parabek
59. DRA. Hj. Luthfiyah Sungkar
60. Mahmudi Yunus
61. KH. Mas Mansur
62. KH. Masykur
63. Muhammad Natsir
64. KH. Muhammad Achmad Sahal Mahfud
65. Prof. Dr. M. Amien Rais
66. Ustad Muhammad Arifin Ilham
67. KH. Muhammad Dahlan
68. Teuku Muhaam Hasbi Ash-Shiddieqy
69. KH. Muhammad Hasyim Asyari
70. Dr. Muhammad ‘Imaduddin ‘Abdulrahim, M.Sc
71. KH. M. Isa Anshari
72. Ir. Muhammad Ismail Yusanto
73. Syeikh Muhammad Jamil Jambek
74. KH. Muhammad Khalil Al-Maduri
75. Prof.Dr. M. Quarish Shihab, M.A
76. Prof. H.M. Rasjidi
77. H. Muhammad Sudjak
78. Muhammad Syuhudi Ismail
79. Syeikh Muhammad Thaib Umar
80. KH. Munawwar Chalil
81. KH. Munawir Sjadzali
82. KH. Noer Ali
83. Prof. Dr. Nurcholish Madjid
84. Haji Oemar Sadi Tjokroaminoto
85. Rahamn El-Yunusiyyah
86. H.R. Rasuna Said
87. KH. Rusyad Nurdin
88. Sa’ad Doeddin Djambek
89. Shaibul Wafa Tajul Arifin
90. Siti Walidah
91. KH. Soleh Darat
92. Syeikh Sulaiman Ar-Rasuli
93. Syafruddin Prawiranegara
94. Taufq Ismail
95. KH. Tuaraihan
96. Hj. Tutty Alawiyah AS
97. KH. Toto Tasmara
98. Ustad Yusuf Mansur
99. KH. Zaenal Mustofa
100. KH. Zainuddin MZ
101. KH. Zainul Arifin

Dan lewat buku ini, kita semua dapat belajar. Perbedaan adalah keniscayaan. Melalui perbedaan, hidup makin berwarna.

No comments: